Sabtu, 10 September 2011

"seorang akhwat dan seorang laki-laki"

Seorang akhwat dikagetkan oleh kedatangan seorang lelaki-yang ia kenal- ditengah-tengah rapat persiapan Ramadhan. Ya, kaget. Bagaimana tidak? Laki-laki itu seolah datang hendak melabraknya dihadapan semua ikhwah (ikhwan dan akhwat) yang hadir saat rapat itu. Laki-laki itu ternyata sengaja mengikuti nya ke lokasi rapat. Ia memang sengaja hendak melabrak si akhwat didepan teman-teman akhwat itu. Laki-laki yang berbeda dari ikhwan yang hadir saat itu. Dengan kaos oblong dan celana jeans yang sengaja di koyak di lututnya. Rambut panjang dan sedikit berwarna. bukan masalah penampilannya. Tapi, kebiasaannya ya yang seperti anak gaul kebanyakan. Akhwat itu amat tahu itu. Alkohol, rokok, dan mungkin narkoba amat dekat dengan laki-laki itu.

"Hey, Latifa! jadi, ini ternyata kegiatan mu?" Si akhwat yang bernama Latifa itu terkejut saat laki-laki itu menyibak tirai penghalang antara ikhwan dan akhwat.
Dia, mengapa disini? Pikir sang akhwat.

"Kau kaget mengapa aku bisa ada disini? Huh. Ya, aku mengikuti mu. Aku sengaja datang kemari untuk mendengar alasan mu. Mengapa engkau menolakku?." Ucapan laki-laki itu sontak mengagetkan semua ikhwah yang hadir. Kini, semua perhatian tertuju pada kedua anak manusia itu. Si akhwat dan laki-laki aneh itu. Tak ada yang mau menyela, karna memang tak ada yang tau duduk perkaranya.

"Mengapa kau diam saja? Kau malu menjawabnya? Apa karna dia yang kau suka ada disini? Munafik! Kau menolak ku karna ada yang kau suka kan? Kau tidak fare. Ini tidak adil. Kau tidak membalas setiap sms ku, chat fesbuk ku,, kau juga tak mengangkat telepon dari ku. Ini benar-benar tidak adil. Jika kau menolakku, kau harus berikan alsan yang tepat. Alasan yang bisa ku terima." Laki-laki itu semakin meninggikan suaranya. Ia tak risih berdiri dihadapan semua yang duduk disana. Tapi, yang ditanya diam saja. Si akhwat hanya menunduk.

"Apa yang harus aku lakukan, agar kau mau memperhatikanku. Agar aku bisa menjadi perhatianmu. Agar kau menyukaiku. Aku juga berhak atas cinta mu. Ku mohon, beri tahu aku." Suara lelaki itu kini merendah. Memelas. Ia menatap si akhwat dalam. Yang ditatap masih menunduk. Semua yang hadir diam menelan ludah. Penasaran dengan jawaban yang akan di berikan si akhwat. Tak pernah begini sebelumnya. Tak pernah ada "katakan cinta" di depan para ikhwah secara blak-blakan. Karna yang nembak si akhwat pasti sudah tahu jawabanya. TIDAK. Tapi, akan kah itu yang akan di katakan sang akhwat. Atau, alasan apa yang bisa di terima laki-laki itu??

Si akhwat menunduk lebih dalam. Menutup matanya. Menghela nafas. Lalu mengangkat wajahnya, membuka matanya. Menatap laki-laki itu. Biasa. Tersenyum.

"Baik. Saya akan beritahu kamu agar kamu bisa menjadi perhatian saya. Agar kamu bisa mencuri seluruh perhatian saya" Sang akhwat membuka suara. Tak peduli dengan wajah-wajah disekitarnya yang terkejut dengan pernyataannya. Si akhwat yang militan, akankah tergoda???

Sebaliknya, si lelaki tersenyum. Merasa harapan nya terjawab.

"Jika saya ibaratkan perasaan saya, perhatian saya, dan cinta saya itu dengan angka 100 %, maka untuk mendapatkan 10 % perhatian saya, kamu harus jadi orang yang lucu. Saya senang dengan sesuatu yang lucu. Karna dengannya, semua beban, kesedihan dan kesusahan saya seolah terlupakan jika saya melihat sesuatu yang lucu. Saya senang tatkala ada yang bisa membuat saya tertawa. Karna dengannya, saya merasa lebih kuat untuk melalui hari yang sulit. Tapi, tidak berlebihan, tidak di buat-buat dan sewajarnya. Jika kamu menjadi orang yang lucu, maka kamu telah bisa mencuri 10 % perhatian saya." lanjut si akhwat.

Laki-laki itu mengangguk. Cukup mudah. Tak sulit menjadi orang yang lucu, banyak buku yang membahas itu, pikirnya. Yang lain heran. Namun, tetap mendengarkan.

"Jika kamu masih merasa kurang dengan 10 % perhatian saya, maka kamu harus jadi orang yang bijaksana untuk mendapatkan 10% lagi. Menjadi orang yang bisa bijak menyikapi setiap masalah, meletakkan sesuatu tepat pada tempatnya. Dan tidak berlebihan dalam menyelesaikan masalah. Karna, saya amat hormat pada orang yang bijaksana. Karna saya merasa aman untuk menyerahkan kepercayaan saya pada orang yang bijaksana. Dan andai kamu memiliki keduanya, kamu telah berhasil mengambil 20 % perhatian saya."

Si laki-laki mangut-manggut. Mencerna hati-hati setiap kalimat si akhwat.

"10 % lagi, kamu harus menjadi orang yang sabar. Karna orang yang sabar amat pandai mengelola emosionalnya. Saya sangat kagum pada orang yang penyabar. 10 % lagi, kamu harus jadi orang yang jujur. Karna, sekali saja saya di bohongi, maka untuk selanjutnya saya akan sulit percaya pada nya. Kamu harus menjadi orang yang peduli untuk mendapatkan 10% lainnya. Orang yang perduli pada kesusahan orang, mengerti akan perasaan orang. Karna orang yang peduli selalu berusaha membantu sebisanya pada orang yang membutuhkan. Dan andai kamu memiliki kesemua itu, kamu sudah berhasil mendapatkan 50 % perhatian saya. Tapi, 50 % belum cukup untuk saya cintai." sang akhwat melanjutkan. Menatap sekelilingnya. Wajah-wajah yang semakin bingung.

"Apa yang 50 % lagi? Aku akan berusaha melakukannya." si laki-laki tetap optimis.

"Nah, untuk yang satu ini, poinnya lebih tinggi. 20%. Kamu harus jadi pemimpin yang baik. Karna saya hanya akan mempercayakan diri saya pada orang yang bisa memimpin dengan baik. Berawal dari memimpin dirinya sendiri lalu keluarganya. Ini sangat penting. Dan yang terakhir, poinnya 30%. Kamu harus jadi orang yang sholeh. Mengerti akan agama, dan hukum dan syariat yang berlaku di dalamnya. Menjadi imam, bukan hanya dalam shalat tapi dalam hidup. Menegur saya bila saya tersalah, mengingatkan bila lupa. Dan saling menguatkan dalam ibadah. Ikhlas dan tulus dalam setiap kebaikannya. Dan dengan semua itu kamu telah memiliki 100 % perhatian saya." si akhwat menatap si laki-laki. Melihat responnya.

Si lelaki menghela nafas. Agak sulit memang yang diinginkan si akhwat. Tapi, ia yakin ia bisa melakukannya. Demi cintanya pada si akhwat.

"Baik, saya akan berusaha" katanya mantap.

"Tapi,,.." si akhwat memotong. Laki-laki itu diam. Menunggu kelanjutan kalimat si akhwat.

"Semua itu jadi tak berarti, jika kamu memiliki 'satu hal' saja." si akhwat diam sejenak.

"Satu hal?? Apa itu?" Laki-laki itu penasaran. Dan di sudut lain, ada yang lebih penasaran.

"Jika kamu memiliki semua itu, tapi tidak memiliki hal yang satu ini, maka semua itu jadi tak berguna. Tapi, jika kamu tak memiliki kesemua hal yang saya sebutkan tadi, tapi kamu memiliki hal yang satu ini, semua itu juga jadi tak penting. Dan hal itu adalah..." si akhwat menatap sekitar. Menghela nafas. "TAKDIR".


"Takdir?? Maksudnya??" si laki-laki itu seolah menjadi wakil dari semua yang ada disana. Semua yang juga bertanya, mengapa takdir?

"Ya. takdir. jika kamu tak pernah di takdir kan menjadi jodoh saya, maka meskipun kamu memiliki semua perhatian saya, kamu tetap tak kan bisa memiliki cinta saya. Sebaliknya, jika kamu di takdirkan menjadi jodoh saya, maka meskipun kamu tidak memiliki semua hal itu, kamu telah memiliki cinta saya seutuhnya. Dan untuk yang satu ini, saya tidak punya tips apa-apa untuk kamu. Selain, berdo'alah pada yang menguasai takdir. ALLAH SWT." si akhwat berhenti. Wajah-wajah yang tadinya kebingungan, kini cerah dengan penjelsan sang akhwat. Mulai mengerti. Namun, laki-laki itu diam. Rona wajahnya yang tadinya cerah, berubah.

Takdir??? Ia menelan ludah.

"Saya, kamu dan seluruh yang ada disini adalah termasuk orang-orang yang menunggu ketetapan itu. Itulah jawaban saya." si akhwat tersenyum di akhir kalimatnya. Puas dengan jawabannya. Ia tahu, laki-laki itu tak menginginkan alasan darinya. Tapi, jawaban. Ya atau Tidak. Menerima cintanya atau menolak. Dan jawaban itu sudah tertuang di penuturan panjangnya.

Takdir??? Ya Allah, apakah ia yang engkau takdirkan menjadi jodoh ku???

wallahu 'alam bi shawab.






thanks to : ALLAH SWT atas inspirasi indah dari-Nya....
semoga bermanfaat.. :)

1 komentar: